My Speech : Save Our Environment

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Honorable ones, miss dini is a English lecture and all audiences.

Before I begin to deliver this speech, I would like to invite you to thank to Allah the Almighty, Who has given us Mercy and Blessing, so we can meet together in this blessing place. And also let’s deliver Sholawat and Salam to our prophet Muhammad SAW, Who has brought us from the darkness to the brightness.

Ladies and gentlemen

To celebrate an annual event of Earth Day on April 22, today I would like to deliver a speech about “Our Environment”.

Realize it or not, we live in this world depends on the environment, we drink water from our environment, we breath air from our environment and we eat foods which are planted from our environment. Our environment has a great influence in our live. Our environment gives us life. Good or bad the condition of our environment will definitely affect our live even our existence. Our environment is our life.

Let’s close our eyes and remember few years back. Few years ago, there were many green trees around us but now those green trees are gone and replaced with grey stiff buildings.  Few years ago, we could still breath deeper to fill our lung with fresh air of oxygen but now that refreshing oxygen was gone and replaced with thick Carbon Monoxide. Few years ago, we could still look at our reflections on the river because of the clear water but now those reflection was gone and replaced with pale face of trash.

Ladies and gentlemen

The future condition of our environment depends on us. We who live now have a big responsibility to restore our environment so in the future we can still live a better life. Remember my friends, our environment is our life. If it is destroyed, our life will be destroyed too. Treat it well and it will treat us well.

That is all my speech. I hope my brief speech about the environment will be useful for us.  And also I would like to say sorry for all of my mistakes. Thank you very much for your attention.

Wassalamu’alaikum.

Diary of the Week

Diary
Assalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh
How are guys today? I hope your in good condition
In this day, I can tell you what happen in this week
First, start from Wednesday. I work the overtime journals and reports, and I go pray. After prayer, I eat and take a shower. After that, I went to campus for College mathematics. After mathematics followed by complete report after that my practical workand go home. On Thursday, I woke up before dawn and carried out fasting sunnahThursday, after that I went to the mosque. After that I went to the campus to join the activities of the Executive Board upgrade FKMI  Fikri in the Kapuas, afterwards I noon forty winks and continued with the show iftaar and studies organised by GRMS (Generation Rabbani Sekadau Students) in the mosque that night as well as Pontianak IKIP PGRI joined yasinan and sholawatan. On the day I do the Friday at acc basic chemistry II lab course calculations in the old Sciences, after that I pray at the Mosque of the Mujahidin and at one meeting I have dirgahayu Himki new buildings in the SCIENCE FACULTY of the second floor. Four o’clock in the afternoon until the eveningsix and a half I have sample material for practical work tomorrow night and accompanied by work on the report and the journal. On Saturday, I had to finish the journalfor teaching hours, one day, and the practical progress fast enough because when teaching two groups merged into one group. On Sunday, I attended a training organization in the Hall of the village on the way the media organized by Himki, after completion of the event the evening should overtime for working on journal and report again hehehe. Next Monday, should overtime and much goes wrong, in the morning I have to borrow funds for Business Desk selling at SBMPTN, after that I continue with the work on the report. On  I was delivering a report on the lab, after that I pray at the Musholla Fikri. After that I to the new building to see anything done business and Fund staff talking about dirgahayu, at the same time the rain ever came to the maghrib, after that I went home and to bed. The next day, I came to the campus enough to help spread the pamphlet from FKMI Fikri to our SBMPTN participants, we from Fikri eating in a dining are on the shores of the Kapuas River  in the noon and its accompanied again by journals and reports and overtime again and again huuuuh … tired …. all that chemistry child so yaa, should be strong mentally, physically, the soul, the spiritual and physical wkwkwk. On Wednesday morning I was in college and continued to work on the report and the journal as well as noon to afternoon lab course. On the practical work, my group could arguably be a goodly long group of his experiments and teaching the basic chemistry of the terakdhir on this semester heheh relieved cuyy, seriously ….
Well all this from me. If you want to pursue your dream of success don’t so just dreamers, but be a contact mimipi it. In the world of work that GPA is important, but more important soft skill (public speaking, organizations and networks) are far more important than the IPK. However, it seems to me that students should be able to open the job because it’s got a science student and must be developed for the Betterment of the nation and the country. Four organizations, GPA steady, maybe that’s how itshould be realized for now, so that the future of these young men become the golden generation of Indonesia at 2045. Aamiin
Wabillahi taufik hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh wal

Laporan Kimia Organik Rekristalisasi dan Sublimasi

REKRISTALISASI DAN SUBLIMASI

Syahrol Muslim*, Dian Andriani, Edi Supriadi, Erma Maruni, Kurnia Dewi, Melia Septiriyani, Yulistiya Vidyaning Maulidya Dan Devy Haryati

Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Tanjungpura

Jl. Prof. Hadari Nawawi, Pontianak

Syahrol.muslim@gmail.com

Abstrak

Telah dilakukan  percobaan rekristalisasi dan sublimasi. Metode rekristalisasi merupakan cara pemurnian zat padat dari campuran padatannya dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan dengan cara menjenuhkannya. Tujuan kristalisasi adalah untuk pemisahan dari pemurnian suatu zat padat. Sublimasi adalah proses dari  perubahan  bentuk padatan langsung menjadi bentuk uap tanpa melalui bentuk cair dan setelah mengalami pendinginan langsung terkondensasi menjadi padatan kembali. Proses rekristalisasi dan sublimasi ini adalah salah satu metode perubahan bentuk suatu zat. kristal yang diperoleh. Massa kertas saring dengan kristal – massa kertas saring = 0,3718 gram – 0,3427 gram = 0.0291 gram. Titik leleh asam benzoat yang didapat pada percobaan ini adalah 126°C  .

 

Kata kunci : Rekristalisasi,  kristalisasi,  asam benzoat dan sublimasi.


 

I.Pendahuluan

Pada saat ini seringkali kita melihat di laboratorum, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari beberapa zat yang tidak murni. Cara memurnikan zat tersebut dapat diperoleh dengan berbagai cara. Memperoleh suatu senyawa kimia dengan kemurnian yang sangat tinggi merupakan hal yang sangat esensi bagi kepentingan kimiawi. Bila zat tersebut merupakan zat cair maka dapat dilakukan  metode destilasi untuk memurnikannya. Sedangkan jika zat tersebut berupa  padatan, maka tekhnik pemisahan dan pemurnian yang dilakukan adalah dengan menggunakan  metode kristalisasi, namun bila  zat padat tersebut bersifat volatil maka pemurniannya dilakukan dengan metode sublimasi. Sebagai contoh pada kehidupan sehari-hari adalah proses pengkristalan garam dari air laut.

Kristal adalah benda padat yang mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam, kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas simetris, telah lama para ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini juga tersusun secara simetris (keenan, 1979)

Kristalisasi merupakan metode untuk pemurnian zat dengan pelarut dan dilanjutkan dengan pengendapan. Dalam kristalisasi senyawa organic dipengaruhi oleh pelarut. Pelarut kristalisasi merupakan pelarut dibawa oleh zat terlarut yang membentuk padatan dan tegantung dalam struktur Kristal-kristal zat terlarut tersebut (Oxtoby, 1986)

Rekristalisasi merupakan salah satu cara pemurnian zat padat dari campuran padatannya dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan dengan cara menjenuhkannya. Kristal adalah suatu padatan dimana molekul atau ionnya tersusun dalam suatu pola tertentu. Kristal dapat tumbuh menjadi berbagai macam bentuk dengan mempertahankan jumlah muka dan antar sudut muka (crystalhabit) (Maulin, 2001).

Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian zat padat campuran pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya (Rositawati, dkk, 2013)

Pada dasarnya pertumbuhan adalah transfer massa dari fasa cair (larutan) ke fasa padat (kristal). Berikut beberapa faktor yang memprngaruhi pertumbuhan kristal (Maulin, 2001) :

Kecepatan pertumbuhan pada kristal yang berukuran kecil lebih tinggi daripada kecepatan pertumbuhan pada kristal berukuran besar. Partikel berukuran lebih besar mempunyai kecepatan  terminal lebih besar pula sehingga semakin besar pasrtikel, semakin rendah kecepatan pertumbuhannya (Maulin, 2001)

Pertumbuhan partikel pada temperatur tinggi dikontrol oleh difusi (diffusion controlled), sedangkan pada temperature rendah dikontrol oleh nirfase integration (Maulin, 2001).

Impuritis memberikan pengaruh yang cukup luas bagi pertumbuhan kristal. Beberapa impuritas ada yang meningkat atau mengahambat laju pertumbuhan Impuritas mempengaruhi pertumbuhan kristal dengan berbagai macam cara. Impuritas dapat merubah sifat larutan, konsentrasi kesetimbangan dan supersaturasi serta dapat merubah  karakteristik lapisan adsorpsi permukaan kristal yang menyebabkan morfologi kristal berbentuk pipih atau seperti piringan (Maulin, 2001)

Kelarutan adalah kuantitas maksimal padatan yang terkandung dalam suatu larutan. Larutan yang tidak mampu melarutkan padatan lagi disebut larutan jenuh. Sedangkan supersaturasi adalah keadaan dimana larutan mengandung konsentrasi padatan terlarut yang lebih tinggi daripada konsentrasi kesetimbangan (jenuh). Kristalisasi dapat terjadi hanya jika kondisi supersaturasi tercapai (Mc Cabe, 1985).

Aglomerasi adalah pengabngan partikel-pertikel kristal. Aglomerasi merupakan proses yang bisa atau tidak diharapkan dalam kristalisasi. Biasanya aglomerasi dihindari dalam kristalisasi karena struktur aglomerat lebih rapuh dari struktur kristal (Maulin, 2001).

Proses pengeringan (sublimasi) dilakukan dengan cara memasukkan produk beku ke dalam ruangan vakum. Harus dipertahankan bahwa kondisi proses (P dan T) tetap dibawah titik triple, sehingga bisa dijamin bahwa proses sublimasi bisa terjadi, dan tidak terjadi proses pelelehan (Phariyadi, 2013)

Padatan volatile adalah padatan yang memiliki gaya tarik menarik antar partikel relatif lemah, berarti mudah menguap, mempunyai tekanan uap jenuh relative besar. Padatan non volatile adalah padatan yang memiliki gaya tarik menarik antar partikel relative kuat, berarti susah menguap, mempunyai tekanan uap jenuh relatif kecil (Bustan, dkk, 2008)

  1. Metodologi

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu cawan penguap porselen, corong buchner, corong saring, gelas piala 50mL, glass wool, kertas saring, oven dan penangas air.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu asam benzoate, aquades dan kamfer.

  1. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada percobaan ini dilakukan dengan 2 cara kerja yang pertama adalah rekristalisasi asam benzoate dan yang kedua adalah sublimasi kamfer.

Rekritalisasi Asam Benzoat

Asam benzoat (5g) dimasukkan ke dalam gelas piala (50 mL). Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sehingga semua asam benzoat larut (tepat larut). Disaring asam benzoat dengan corong saring dalam keadaan panas. Dibiarkan filtrat pada temperatur kamar. Disaring kristal yang terbentuk dengan menggunakan corong buchner. Dikeringkan kristal yang diperoleh dalam oven. Ditimbang kristal yang diperoleh. Ditentukan titik leleh asam benzoat.

Sublimasi Kamfer

Kristal yang akan dimurnikan disimpan pada cawan penguap porselen. Disiapkan corong, dimana bagian ujungnya disumbat dengan glass wool. Ditutup cawan porselen dengan kertas saring, diletakkan corong dalam posisi terbalik. Dipanaskan kristal diatas penangas pasir, sublimat akan menempel dipinggir-pinggir corong.

III. Hasil dan Pembahasan

  • Data Pengamatan

      Rekristalisasi Asam Benzoat

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Asam uchner (5g) dimasukkan ke dalam gelas piala (50 mL). Ditimbang asam benazoat 5 gram
2. Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sehingga semua asam uchner larut (tepat larut). Asam benzoate larut dalam air, menghasilkan kotoran yang mengapung di atas air.
3. Disaring asam benzoate dengan corong saring dalam keadaan panas. Didapatkan pengotor
4. Dibiarkan uchner pada uchnerure kamar. Mulai terbentuk kristal
5. Disaring kristal yang terbentuk dengan menggunakan corong uchner.  
6. Dikeringkan kristal yang diperoleh dalam oven.  
7. Ditimbang kristal yang diperoleh. Massa kertas saring dengan kristal – massa kertas saring = 0,3718 gram – 0,3427 gram = 0.0291 gram.
8. Ditentukan titik leleh asam benzoat. Titik leleh 126°C

 

Sublimasi Kamfer

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Kristal (kamfer) yang akan dimurnikan disimpan pada cawan penguap porselen. Kamfer 1 butir
2. Disiapkan corong, dimana bagian ujungnya disumbat dengan glass wool. Corong disumbat pada ujungnya
3. Ditutup cawan porselen dengan kertas saring, diletakkan corong dalam posisi terbalik.  
4. Dipanaskan kristal diatas penangas pasir, sublimat akan menempel dipinggir-pinggir corong. Terjadi penguapan naftalen dan terbentuk kristal

 

Rekristalisasi adalah suatu teknik pemurnian zat padat campuran pengotornya yang dilakukan dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau cocok. Ada beberapa syarat agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya (Rositawati, dkk, 2013).

Sublimasi merupakan metode yang dilakukan untuk memurnikan suatu  zat padatan berdasarkan titik lelehnya. Metode perubahan yang menyebabkan murninya suatu zat padat bila telah mencapai titik tertentu. Sehingga zat pengotor dapat terurai dari zat yang disublimasi.

Titik leleh asam benzoat adalah 122,4°C dan kegunaan dari asam benzoat dalam kehidupan sehari-hari diantaranya sebagai bahan pengawet makanan, bahan baku pembuatan fenol, dan sebagai anti oksidan,

Naftalena (C10H8) merupakan senyawa murni pertama yang diperoleh dari fiksasi dididh lebih tinggi dari batu bara. naftalen           mudah diisolasi karena senyawa ini menyublim dari gas sebagai padatan kristal tak berwarna yang indah, dengan titik leleh 80°C. Naftalen merupakan molekul planar dengan dua cincin benzene yang berfungsi (bergabung).

Dalam metode pemurnian asam benzoat ini dilakukan pemisahan dan pemurnian zat padat dengan menggunakan metode rektristalisasi dan sublimasi berdasarkan titik leleh zat tertentu.

 

  • Pembahasan

            Rekristalisasi merupakan suatu pembentukan kristal kembali dari larutan atau leburan dari material yang ada. Sebenarnya rekristalisasi hanyalah sebuah proses lanjut dari kristalisasi. Apabila kristalisasi (dalam hal ini hasil kristalisasi) memuaskan rekristalisasi hanya bekerja apabila digunakan pada pelarut pada suhu kamar, namun dapat lebih larut pada suhu yang lebih tinggi. Hal ini bertujuan supaya zat tidak murni dapat menerobos kertas saring dan yang tertinggal hanyalah kristal murni. (Fessenden, 1983).

Mula-mula asam benzoat (5g) dimasukkan ke dalam gelas piala (50 mL). Kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sehingga semua asam benzoat larut (tepat larut), kelarutan asam benzoat adalah larut dalam air kurang dari 350 bagian air (F.I Edisi III, 1979). Asam benzoat larut dalam keadaan panas, karena kalau didinginkan, asam benzoat tersebut bisa berubah menjadi kristal. Selanjutnya disaring asam benzoat dengan corong saring dalam keadaan panas,tujuan dari penyaringan untuk memisahkan zat pengotor dari larutan kristal yang murni  dan penyaringan dalam keadaan panas agar larutan tersebut tidak mengkristal. kemudian dibiarkan filtrat pada temperatur kamar. Kemudian disaring kristal yang terbentuk dengan menggunakan corong Buchner, faktor-faktor yang mempengaruhi kristalisasi adalah ukuran kristal, temperatur, impuritis, kelarutan dan supersaturasi, dan aglomerasi. Selanjutnya dikeringkan kristal yang diperoleh dalam oven, dengan adanya pengovenan kristal, maka akan mempermudah pengeringan kristal yang terbentuk. Langkah selanjutnya ditimbang kristal yang diperoleh. Dan dilanjutkan dengan ditentukan titik leleh asam benzoat, titik leleh yang diperoleh pada asam benzoat adalah 126°C , temperature yang digunakan pada percobaan ini lebih tinggi karena titik leleh adalah temperature dimana zat padat berubah menjadi cairan pada tekanannya satu astmosfer.

 

Pertama-tama kristal yang akan dimurnikan disimpan pada cawan penguap porselen, metode sublimasi adalah suatu proses dimana zat-zat tertentu bila dipanaskan secara langsung berubah dari bentuk padat menjadi uap tanpa meleleh. Uap tersebut bila didinginkan akan kembali menjadi zat padat. Disiapkan corong, dimana bagian ujungnya disumbat dengan glass wool, glass wool adalah insulasi (peredam panas) yang terbuat dari serat fiberglass yang melalui proses tertentu sehingga bertekstur seperti wol dan glass wool berfungsi untuk peredam panas yang baik serta meredam panas dengan cara meyerap panas. Ditutup cawan porselen dengan kertas saring, diletakkan corong dalam posisi terbalik .

Dipanaskan kristal diatas penangas pasir, sublimat akan menempel dipinggir-pinggir corong fungsi pemanasan untuk mencapai titik lelehnya, asam benzoat akan meleleh. Sehingga terbentuk kristal didinding corong. Terbentuk gas dan menempel dicorong tersebut biasa disebut dengan sublimasi.

Perbedaan zat padat kristal dan amorf ialah pada prosesnya. Zat padat kristal membeku dengan pengendapan dengan cara pengulangan pola molekul atau ion, sedangkan zat padat amorf terbentuk dengan fasa terkondensasi sempurna dan zat padat amorf ini menyerupai zat padat kristal karena banyak bentuk dan proses yang sama.

 

Sifat Fisik Naftalen

Massa molar 128,17052 g
Kepadatan 1,14 g/cm³
Tititk lebur 80,26°C, 353 K, 176°F
Titik didih 218°C, 491 K, 424°F
Kelarutan dalam air IV            g/L

 

  1. Kesimpulan
  2. Metode rekristalisasi merupakan cara pemurnian zat padat dari campuran padatannya dimana zat-zat tersebut dilarutkan dalam suatu pelarut kemudian dikristalkan dengan cara menjenuhkannya
  3. Pelarut yang baik untuk rekristalisasi adalah mempunyai daya pelarut yang tinggi pada suhu tinggi dan daya pelarut semakin turun seiring dengan menurunnya suhu, dapat melarutkan pengotor dengan mudah walaupun jumlahnya sedikit dan dapat mengkristalkan zat yang dimurnikan.

 

Daftar  Pustaka

Bustan, M., Febryani, R., dan Pakpahan, H., (2008), Pengaruh Waktu Ektraksi dan Ukuran Partikel Terhadap Berat Oleoserin Jahe yang Diperoleh Dalam Berbagai Jumlah Pelarut Organik (methanol), Jurnal Teknik Kimia, No.4, Vol.15, Universitas Sriwijaya, Palembang

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Jakarta.

Fessenden, R.J dan J.S, (1983), Kimia Organik, Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga.

Keenan, W., (1979), Kimia Untuk Universitas, Jakarta: Erlangga.

Maulin, Z., (2001), Crytalization 4 ed. Pp. 216-251 Butterworth-Heinemann : Oxford.

Mc Cabe, W., (1985), Unit Operations of Chemical Engineering 4.e.d pp 797-833, Mc Graw-Hill 80 : Singapore.

Oxtoby, D. W.,(1986). Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Edisi 4, Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Rositawati, A. T, (2013), Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Garam Industri, Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol.2, No.4, Hal.217-225, Universitas Dipenogoro, Semarang.

 

 

Laporan Kimia Organik Hidrokarbon

HIDROKARBON

Syahrol Muslim*, Dian Andriani, Edi Supriadi, Erma Maruni, Kurnia Dewi, Melia Septiriyani, Yulistiya Vidyaning Maulidya dan Widya Angely

Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Tanjungpura

Jl. Prof. Hadari Nawawi, Pontianak

Syahrol.muslim@gmail.com

 

Abstrak

Telah dilakukan percobaan hidrokarbon, Hidrokarbon merupakan senyawa organik yang tersusun hanya oleh karbon C dan Hidrogen. Hidrokarbon terbagi menjadi tiga jenis yaitu hidrokarbon jenuh, hidrokarbon tak jenuh dan hidrokarbon  aromatik. Hidrokarbon jenuh (alkane dan sikloalkana) bersifat inert dan tidak mudah bereaksi dengan pereaksi umum, sedangkan hidrokarbon tak jenuh (alkena dan sikloalkena) dapat, mengalami reaksi adisi dan reaksi oksidasi. Pada percobaan ini mendapatkan hasil kelarutan dan densitas dalam ligroin ada yang larut da nada yang tidak larut, dalam pembakaran ada perbedaan dari warna asap dan warna api, dalam uji bromin ada senyawa yang bereaksi, bereaksi sebagian maupun tidak bereaksi, dalam uji KMnO4 beberapa senyawa pekat setelah ditambakan 2 tetes KMnO4, dan dalam uji H2SO4 banyak senyawa yang tidak bereaksi.

Kata kunci : Hidrokarbon, hidrokarbon jenuh, hidrokarbon tak jenuh, asam sulfat dan kalium permanganat.


1.Pendahuluan

Pada awal abda ke-19 orang meyangka bahwa zat-zat dalam tumbuh-tumbuhan dibentuk oleh sesuatu yang gaib dan belum diketahui sifat-sifatnya. Kemudian kepercayaan ini lambat laun hilang dan pada tahun 1828 seorang ahli kimia, Fiedrich Mohler yang dapat membouat ureum dari zat-zat anorganik. Selain tumbuh-tumbuhan dan hewan, masih ada sumber senyawa hidrokarbon yang kompleks misalnya, gula, amilum, protein, glukosida, antibiotika, minyak, lemak dan lain-lain. Dari batu bara diperoleh kokas, gas batu bara yang mengandung berbagai senyawa organic. Minyak bumi merupakan campuran senyawa-senyawa karbon, terutama hidrokarbon Tujuan dilakukannya percobaan ini untuk mengetahui sifat-sifat hidrokarbon dan dapat menentukan reakivitas kmia berdasarkan jenis hidrokarbon (jenuh, tak jenuh dan aromatik). Prinsip pada percobaan ini adalah mengetahui sifat-sifat hidrokarbon dan dapat menentukan reakivitas kmia berdasarkan jenis hidrokarbon (jenuh, tak jenuh dan aromatik) dengan cara memisahkan senyawa hidrokarbon menggunakan metode sifat fisika dan kimia. Metode pada sifat fisika, kelarutan dan densitas dalam air dan kelarutan dan densitas dalam dietil eter. Sedangkan dalam metode kimianya dengan cara pembakaran, uji bromin, uji KMnO4 dan uji H2SO4. Identifikasi ini bermanfaat untuk sintesis obat-obatan, pendayagunaan bahan bakar, proses pembuatan sabun, plastik dan lain-lain.

Hidrokarbon yang paling sederhana adalah alkana, yaitu hidrokarbon yang hanya mengandung ikatan kovalen tunggal. Hidrokarbon merupakan senyawa yang struktur molekulnya terdiri dari hidrogen dan karbon. Molekul yang paling sederhana dari alkana adalah metana. Metana berupa gas pada suhu dan tekanan baku, merupakan komponen utama gas alam (Wilbraham, 1992).

Hidrokarbon dapat diklasifikasikan menurut macam-macam ikatan karbon yang dikandungnya. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden, 1997).

Hidrokarbon aromatik merupakan golongan khusus senyawa siklik yang biasanya digambarkan sebagai lingkar enam dengan ikatan tunggal dan ikatan rangkap bersilih–ganti. Kelompok ini digolongkan terpisah dari hidrokarbon asiklik dan alifatik karena sifat fisika dan kimianya yang khas (Syukri, 1999).

Sebagai hidrokarbon jenuh, semua atom karbon dalam alkana mempunyai empat ikatan tunggal dan tidak ada pasangan elektron bebas. Semua elektron terikat kuat oleh kedua atom. Akibatnya, senyawa ini cukup stabil dan disebut juga parafin yang berarti kurang reaktif (Wilbraham, 1992).

Alkana biasa disebut dengan senyawa hidrokarbon jenuh. Disebut hidrokarbon karena didalamnya hanya terkandung atom karbondan hydrogen. Disebut jenuh karena hanya memiliki ikatan tunggal C-H dan C-C saja. Alkana memiliki rumus CnH2n+2, dimana n adalah bilangan asli yang menyatakan jumlah atom karbon. Alkana juga sering disebut sebagai senyawa alifatik. Hal ini dikarenakan lemak-lemak hewani mengandung rantai panjang yang mirip dengan alkana (Fessenden dan Fessenden, 1982).

Alkena merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap karbon-karbon. Alkena terdapat dalam jumlah berlebih da alam. Etilena, sebagai contohnya adalah hormon tanaman yang memacu pematangan buah, dan α-pinen adalah senyawa terbanyak dalam turpentin. Contoh lainnya adalah beta karoten, mengandung sebelas ikatan rangkap dua, merupakan pigmen warna kuning yang mewarnai wortel. Beta karoten meupakan vitamin pro vitamin A (Fessenden dan Fessenden, 1982).

Alkuna adalah hidrokarbon yang mengandung ikatan rangkap tiga karbon. Kedua kelompok senyawa ini disebut hidrokarbon tak jenuh karena memiliki atom hydrogen perkarbon lebih seidikit dibanding dengan alkane, alkena yang memiliki percabangan akan mengalami penururna seikit titik didih (Marsuali, 2004).

Reduksi dan oksidasi merupakan reaksi-reaksi yang sangat umum di dalam kimia organic. Reaksi-reaksi ini dapat mempengaruhi perubahan senyawa-senyawa dengan ikatan rangkap dua, ikatan rangkap tiga, alkohol, aldehid, keton dan senyawa-senyawa lain. Reaksi reduksi adalah reaksi antara satu senyawa dengan hydrogen, sedangkan reaks ioksidasi adalah reaksi antara satu senyawa dengan oksigen. Hasil-hasil reduksi (reduction product) dan hasil-hasil oksidasi (oxidation product) tergantung dari substrat dan kondisi proses (Sumardjo, 2009).

Reaksi adisi artinya penambahan atau penangkapan. Dalam reaksi adisi, suatu zat ditambahkan ke dalam suatu senyawa yang mempunyai ikatan rangkap sehingga ikatan rangkap itu berubah menjadi ikatan tunggal (Sumardjo, 2009)

Reaksi substitusi adalah reaksi penggantian atom ataugugus dengan atom atau gugus lain. Jadi, dalam reaksi ini, satu atom atau gugus yang terdapat dalam ranai utama akan meninggalkan rantai utama tersebut dan tempatnya yang kosong akan diganti oleh atom gugus yang lain (Sumardjo, 2009).

Eliminasi artinya penghilangan atau pelepasan. Reaksi eliminasi dapat dianggap kebalikan dari reaksi adisi. Pada reaksi ini, dua atom atau gugus yang masing-masing terkait pada dua buah atom karbon yang letaknya berdampingan dilepaskan oleh suatu pereaksi sehingga menghasilkan ikatan rangkap (Sumardjo,2009).

 

  1. Metodologi

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada

praktikum ini adalah kaca arloji, korek api, pipet tetes dan tabung reaksi.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini meliputi aquades,benzena, H2SO4 pekat, larutan 1% bromin dalam sikloheksana, larutan 1% KMnO4 aqueous, ligroin, n-Heksana, parafin, sikloheksena dan toluena.

  1. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada percobaan ini dilakukan dengan 2 sifat dan 6 cara kerja. Pertama kelarutan dan densitas dalam air, kedua kelarutan dan densitas dalam ligroin, ketiga pembakaran, keempat uji bromin, kelima uji KMnO4 dan keenam uji H2SO4.

Kelarutan dan Densitas Dalam Air

Diberi label tabung reaksi dengan nama senyawa yang akan diuji. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung 5 tetes benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluena. Ditambahkan 5 tetes akuades ke dalam masing-masing tabung, dan dikocok tabungnya untuk mencampur isinya. Diamati dan dicatat pada lembar pengamatan. Disimpan tabung untuk dibandingkan dengan percobaan berikutnya.

Kelarutan dan Densitas Dalam Dietil Eter

Diberi label tabung reaksi dengan nama senyawa yang akan diuji. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung 5 tetes benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluena. Ditambahkan 5 tetes dietil eter ke dalam masing-masing tabung. Dibandingkan tabung ini dengan percobaan sebelumnya. Diamati dan dicatat pada lembar pengamatan.

Pembakaran

Dimasukkan masing-masing 5 tetes hidrokarbon yang sesuai : benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluene pada masa arloji dan dibakar dengan korek api. Diamati api yang terbentuk dari warna asap maing-masing senyawa uji. Dicatat pada lembar pengamatan.

Uji Bromin

Diberi label tabung reaksi dengan nama senyawa yang akan diuji. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung 5 tetes hidrokarbon yang sesuai : benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluena. Ditambahkan tetes demi tetes larutan 1% bromin dalam sikloheksana, disertai pengocokan setiap penetesan. Dihitung jumlah tetesan larutan 1% bromin dalam sikloheksena, hingga warnanya tetap ada dan tidak hilang. Dicatat pada lembar pengamatan.

Uji KMnO4

Diberi label tabung reaksi dengan nama senyawa yang akan diuji. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung 5 tetes hidrokarbon yang sesuai : benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluena. Ditambahkan tetes demi tetes larutan 1% KMnO4 aqueous disertai pengocokan setiap penetesan. Dihitung jumlah tetesan larutan 1% KMnO4 aqueous, jangan menambah lebih dari 10 tetes. Dicatat pada lembar pengamatan.

Uji H2SO4

Diberi label tabung reaksi dengan nama senyawa yang akan diuji. Dimasukkan ke dalam masing-masing tabung 5 tetes hidrokarbon yang sesuai : benzena, parafin, n-heksana, sikloheksena dan toluena. Dilakukan percobaan satu persatu tiap tabung. Ditambahkan 3 tetes H2SO4 pekat pada tabung, dirasakan perubahan suhunya. Diamati peruban yang terjadi. Dicatat pada lembar pengamatan.

III. Hasil dan Pembahasan

Uji Sifat Fisik Senyawa Hidrokarbon

  Air Dietil Eter
Sampel

Hidrokarbon

Kelarutan Densitas Kelarutan Densitas
Benzena Tidak larut Terjadi pemisahan Larut Tidak terjadi pemisahan
Parafin Tidak larut Terjadi pemisahan Larut Tidak terjadi pemisahan
n-heksana Tidak larut Terjadi pemisahan Larut Tidak terjadi pemisahan
Sikloheksena Tidak larut Terjadi pemisahan Larut Tidak terjadi pemisahan
Toluena Tidak larut Terjadi pemisahan Larut Tidak terjadi pemisahan

 

Uji Kimia Senyawa Hidrokarbon

Sampel

Hidrokarbon

Pembakaran Uji Bromin Uji KMnO4 Uji H2SO4
Benzena Asap warna putih, api merah keemasan Tidak bereaksi 2 tetes Panas, bereaksi
Parafin Asap  warna putih, api biru keemasan Sebagian bereaksi 4 tetes Tidak panas, tidak bereaksi
n-heksana Tidak ada asap, api warna biru Tidak bereaksi 3 tetes Panas, tdak bereaksi
Sikloheksena Tidak ada asap, api biru keorenan Bereaksi 2 tetes Tidak panas, tidak bereaksi
Toluena Asap warna hitam, api oren keemasan Sebagian bereaksi 2 tetes Panas, tidak bereaksi


 

            Kelarutan dan Densitas Dalam Air

            Aquades (H2O), air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O tidak berwarna, tidak berbau dan merupakan pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat (Hadyana, 2002). Sikloheksena, hidrokarbon alfatik jenuh berlingkar tunggal yang mempunyai rumus umum CnH2n. jadi, rumus umumnya sama dengan rumus umum alkena, hanya saja struktur kimianya berbentuk lingkar. Namanya dibentuk dari nama alkana yang sesuai dengan menambahkan awalan siklo- (Sumardjo, 2009). Toluena, dalam larutan benzena dan toluena, tekanan uap setia[ komponen mematuhi hukum Raoult. Ketergantungan tekanan uap total (Pt) dalam larutan benzena toluena pada komposisi larutannya (Chang, 2004). Pelarut polar (air, metanol, dan etanol). Air yang dicampurkan dengan pelarut-pelarut tersebut dapat larut dengan mudah karena memiliki kesamaan sifat, yaitu sama-sama bersifat polar. Pelarut non-polar (benzena, sikloheksena, parafin dan n-heksana). Dalam pencampuran air dengan pelarut-pelarut tersebut terlihat adanya dua lapisan yang menunjukkan bahwa sampel tidak larut, dimana air selalu berada pada lapisan bawah karena air memiliki massa jenis yang lebih berat di bandingkan benzena,

 

sikloheksena, parafin dan n-heksana. Air memiliki sifat, ikatan hidrogen intermolekul, mempunyai momen dipol tinggi sebesar 1,850D, tetapan dielektriknya 78,5, mempunyai kemampuan untuk mensolvasi, ionnya besar dan senyawa polar. Tujuan dari penggunaan air adalah untuk melarutkan zat-zat dengan baik, karena air adalah pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat. Pada percobaan ini terbentuk dua fasa dan terjadi pemisahan antara akuades dan hidrokarbon, densitas diatas lebih kecil dan densitas dibawah lebih besar.

Kelarutan dan Densitas Dalam Dietil Eter

Dietil eter, juga dikenal sebagai eter dan etoksi etana, adalah cairan mudah terbakar yang jernih, tak bewarna dan bertitik didih rendah serta berbau khas. Hasil yang didapatkan Benzena larut            , tidak terjadi pemisahan, parafin     larut, tidak terjadi pemisahan, n-heksana       larut tidak terjadi pemisahan, sikloheksena larut tidak terjadi pemisahan, dan  toluena larut tidak terjadi pemisahan.

 

            Pembakaran

Tujuan mempengaruhi perubahan senyawa-senyawa dengan ikatan rangkap dua, ikatan rangkap tiga, alkohol, aldehid, keton dan senyawa-senyawa lain . Pada percobaan ini dilakukan pembakaran atau oksidasi, sampel yang digunakan diletakan pada kaca arloji kemudian dibakar, dari hasil yang didapatkan n-heksana tidak ada asap dan api warna biru, sikloheksena tidak ada asap dan api biru keorenan, toluena asap warna hitam dan api woren keemasan, benzene asap warna putih dan api biru keemasan dan parafin asap putih serta api merah keemasan. asap yang sangat hitam, karena kereaktifan yang sangat besar, sedangkan pada asap yang tidak bewarna, karena kereaktifannya tidak besar.

 

            Uji Bromin

Tujuan uji bromin adalah untuk mengamati reaksi halogenisasi, juga untuk mengetahui pengaruh cahaya dalam mempercepat terjadinya reaksi senyawa hidrokarbon. Uji bromin untuk membedakan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Perubahan yang terjadi adalah parafin membentuk 2 fasa dan bereaksi sebagian, sikloheksena membentuk 2 fasa dan bereaksi, n-heksana tidak bereaksi, toluena bereaksi sebagian, dan benzena tidak bereaksi.

            Uji KMnO4

Uji bayer merupakan suatu uji untuk menunjukkan kereaktifan heksana, benzena,dan sikloheksana tehadap oksidator KMnO4 yang merupakan katalis. Kalium permanganat telah digunakan sebagai zat pengoksid secara meluas lebih dari 100 tahun ini. Regensia ini mudah diperoleh murah dan tak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan yang sangat encer (Day dan Underwood,1986 ). Dalam larutan yang bersifat basa, KMnO4 agak mudah mengoksidasi ion-ion iodida, sianida, tiosianat, dan beberapa senyawa organik, tetapi tidak dapat mengoksidasi ion oksalat. Inilah sebabnya beberapa senyawa organik dioksidasi oleh kalium permanganat menjadi oksalat bukan menjadi karbondioksida (Rivai, 1995). Hasil yang didapatkan dalam percobaan ini ialah benzene ditambahkan 2 tetes berubah menjadi ungu pekat, parafin setelah ditambahkan 4 tetes warna larutan berubah menjadi ungu pekat, n-heksana ditmbahkan 5 tetes berubah menjadi warna ungu pekat, sikloheksena ditambahkan 2 tetes berubah menjadi ungu pekat dan toluena ditambahkan 2 tetes menjadi ungu pekat. Sebelum ditetes warna pada senyawa tidak berwarna dan setelah ditetes warnanya berubah menjadi ungu, tujuan setiap tetesan adalah untuk titer dapat habis bereaksi yang ditandai dengan perubahan warna indikator, warna tetes tersebut ialah warna ungu dan setelah ditmabhkan dengan KMnO4 menjadi warna ungu semua senyawa tersebut. Terbentuknya suatu endapan ialah ketika kelarutan dari zat terlarut, yaitu jumlah maksimum zat terlarut yang akan larut dalam sejumlah tertentu pelarut pada suhu tertentu.

 

            Uji H2SO4

H2SO4 pekat berfungsi sebagai oksidator. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan warna. Dari hasil percobaan, umumnya uji ini menghasilkan larutan bening yang terpisah berdasarkan tingkat kekeruhannya. Sedangkan bau yang ditimbulkannya kurang menyengat. Asam sulfat (H2SO4) merupakan senyawa yang tidak berwarna. Asam sulfat dibuat dengan menggunakan proses kamar timbal, tetapi sekarang tealah digantikan dengan proses kontak (oksidasi katalistik dan sulfur dioksida) (Martin, 1994). Hasil yang didapatkan pada percobaan ini ialah benzena dalam kedaan panas mengalami bereaksi, parafin dalam keadaan tidak panas tidak terjadi reaksi, n-heksana dalam keadaan panas tidak terjadi reaksi, sikloheksena dalam keadaan tidak panas tidak terjadi reaksi dan toluena pada keadaan panas tidak terjadi reaksi.

  1. Kesimpulan
  2. Sifat fisik yang ada pada air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O tidak berwarna, tidak berbau dan merupakan pelarut yang baik untuk bermacam-macam zat. ). Air yang dicampurkan dengan pelarut-pelarut tersebut dapat larut dengan mudah karena memiliki kesamaan sifat, yaitu sama-sama bersifat polar.
  3. Sifat kimia yang ada pada percobaan ini adalah mengalami oksidasi, halogenisasi, adisi dan substitusi.

 

Daftar Pustaka

 

Chang, R., 2004, Kimia Dasar, Jilid 2,           Erlangga, Jakarta.

 

Day dan Unserwood, 1986, Kimia Analisis    Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.

 

Fessenden R.J., dan Fessenden, J.S.,          1982, Dasar-dasar Kimia Organik,     Binarupa Aksara, Jakarta

 

Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S.,         1997, Dasar-dasar Kimia Organik,     Binarupa Aksara, Jakarta

 

Hadyana, A.P., 2002, Kamus Kimia, Balai     Pustaka, Erlangga, Jakarta

 

Marsuali, M., 2004, Kandungan Bahan          Organik, n-Alkana, Aromatik, dan      Total Hidrokarbon dalam Sedimen di      Perairan Raha Kabupaten Muna,       Sulawesi Tenggara, Makara Sains,    Universitas Khairun, Ternate            Indonesia.

 

Martin, A., 1994, Kamus Sains, Penerjemah Ahmad, Lintang Pustaka Pelajar,       Jogjakarta.

 

Rivai, H., 1995, Asas Kimia, UI, Jakarta

 

Sumardjo, D., 2009, Pengantar Kimia :          Buku Panduan Kuliah Mahasiswa      Kedokteran dan Program Strata 1           Fakultas Bioeksakta, EGC, Jakarta

 

Syukri, S., 1999, Kimia Dasar 3, ITB,            Bandung

 

Wilbraham, A. C., 1992,  Pengantar Kimia     Organik dan Hayati, ITB, Bandung.

 

 

 

 

Laporan Kimia Organik Senyawa Alkohol dan Fenol

SENYAWA ALKOHOL DAN FENOL

Syahrol Muslim*, Dian Andriani, Edi Supriadi, Erma Maruni, Kurnia Dewi, Melia Septiriyani, Yulistiya Vidyaning Maulidya dan Sahri

Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Tanjungpura

Jl. Prof. Hadari Nawawi, Pontianak

Syahrol.muslim@gmail.com

 

Abstrak

Telah dilakukan percobaan senyawa alkohol dan fenol. Tujuan percobaan ini untuk mengetahui uji kualitatif dari senyawa alkohol dan fenol. Prinsip pada percobaan ini berdasarkan uji kualitatif dari senyawa alkohol dan fenol. Alkohol adalah senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai hidrokarbon. Pada percobaan ini mendapatkan hasil pada test iodoform penambahan 3 tetes iod dan 3 tetes NaOH, warna etanol kuning dan warna methanol berwarna putih. Pada lucas test menghasilkan etanol warna kuning pekat (tidak bereaksi), warna kuning pada isopropil alkohol (sedikit bereaksi) dan warna kuning pudar pada tertier butanol (bereaksi). Pada esterifikasi mendapatkan hasil Bau yang keluar adalah bau gelembus. Pada test oksidasi mendapatkan hasil etanol berwarna ungu dan methanol berwarna coklat. Pada uji untuk membedakan alkohol mono dan poli mendapatkan hasil terbentuk 2 fasa pada gliserol, tidak terbentuk fasa pada tabung etanol. Pada tabung gliserol warna larutan menjadi biru tua dan bercampur dan bereaksi sedangkan pada tabung etanol warna larutan biru muda pudar dan tidak bereaksi. Pada uji kelarutan alkohol dan fenol mendapatkan hasil etanol dan methanol larut dalam air menghasilkan 1 fasa sedangkan fenol tidak larut dan menghasilkan 2 fasa. Pada test ferri klorida mendapatkan hasil etanol tidak ada perubahan warna dan tidak ada endapan, dan fenol 3 tetes terbentuk endapan, 5 tetes endapan tidak ada serta warna berubah menjadi coklat.

 

Kata kunci :  Alkohol, Etanol, Fenol,  Isopropil Alkohol, Methanol dan Tertier Butanol.


 

I.Pendahuluan

Alkohol merupakan seyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat-sifat alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi dibandingkan alkane-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hydrogen. Rumus Umum alkohol R-OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam alcohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya, sedangkan dalam air, methanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut. Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan (Brady, 1999).

Golongan alkohol adalah senyawa-senyawa yang dianggap sebagai turunan alkana, jika salah satu atom H atau lebih diganti oleh gugus hidroksil (-OH). Berdasarkan banyaknya gugus hidroksil yang terikat pada senyawa ini, alkohol digolongkan menjadi :

  1. Alkohol Monovalen

CnH2n+1OH atau R-OH

  1. Alkohol Bivalen / Alkandiol

Jika dua atom H pada alkana diganti oleh gugus OH. Contoh : etilena glikol. Rumus umumnya : CnH2n(OH)2.

  1. Alkohol Trivalen / Alkantriol

Jika tiga atom H pada alkana diganti oleh gugus OH. Contoh : gliserol. Rumus umumnya : CnH2n-1(OH)3(Ndra,1984).

Berdasarkan jumlah gugus R yang melekat pada pengemban gugus hidroksil, alkohol dibedakan menjadi :

 

  1. Alkohol Primer

R-CH2-OH

Hanya satu gugus R melekat pada C-OH alkohol primer (1°).

  1. Alkohol Sekunder

R

R -C-OH

H

Dua gugus R melekat pada C-OH alkohol sekunder (2°)

  1. Alkohol Tersier

R

R-C-OH

R

Tiga gugus R melekat pada C-OH alkohol tersier (3°) (Wilbraham, 1998).

Alkohol merupakan senyawa yang penting dalam kehidupan sehari-hari karena dapat digunakan sebagai zat pembunuh kuman, bahan bakar maupun pelarut. Dalam laboratorium dan industry, alkohol digunakan sebagai pelarut dan reagenisasia (Suminar, 1990).

Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alhokol primer yaitu alkohol yang gugus –OH nya terletak pada C primer yang terikat langsung pada satu atom karbon lainnya, contohnya : CH3CH2CH2OH (C3H7OH). Alkohol sekunder yaitu alokohol yang gugus –OH nya terletak pada atom C sekunder yang terikat pada dua atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus –OH nya terletak pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain (Fessenden dan Fessenden, 1997).

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidropob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kealrutan dalam air (Hart, 1990). Suatu alkohol primer dioksidasi menjadi aldehid atau asam karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa dalam larutan asam, alkohol mengalami dehidrasi menghasilkan alkena yang kemudian dioksidasi (Mardzuki, 1990).

Uji lucas adalah larutan ZnCl2 dan HCl pekat uji ini berdasarkan reaksi alkohol dengan HCl alkil halide dengan katalisator ZnCl2. Pereaksi lucas dapat bereaksi dengan alkohol primer, sekunder dan tersier. Perbedaan gugus mempunyai pengaruh yang besar tehadap sifat senyawa misalnya saja kecepatan jenis reaksinya (Boxer, 1987).

 

  1. Metodolog

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu pipet tetes, pipet

volume, penangas air, sepatula dan tabung reaksi.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu asam asetat glasial, asam sulfat pekat, CuSO4 1M, etanol, FeCl2, FeCl3 1M, Fenol, Iodium dalam KI, Isopropil alkohol, kalium bikromat, kalium permanganate 0,1M, methanol, NaOH 10% dan Tertier butanol.

Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada percobaan ini dilakukan dengan 6 cara kerja. Pertama test iodoform, kedua lucas test, ketiga esterifikasi, keempat test oksidasi, kelima membedakan alkohol mono dan poli, keenam kelarutan alkohol dan fenol dan ketujuh test ferri klorida.

Test Iodoform

Dimasukkan 2 mL methanol dan etanol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Setelah iu, ditambahkan 3 tetes larutan Iodium dalam KI dan larutan NaOH 10% tetes demi tetes sampai warna Iodium hilang. Diamati perubahan yang terjadi, jika belum ada perubahan dipanaskan larutan pada suhu 60°C selama 2 menit. Diamati lagi perubahan yang terjadi dan dicatat.

Lucas Test

Disiapkan 3 buah tabung reaksi dan ke dalamnya masukkan masing-masing 2 mL etanol, isopropil alkohol dan tertier butanol. Ditambahkan ke dalam tabung reaksi 3 tetes pereaksi Lucas (FeCl2 + HCl).  Dikocok campuran secara hati-hati, lalu didiamkan beberapa waktu sambil diamati perubahan yang terjadi.

Esterifikasi

Dimasukkan 2 mL etanol ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1 mL asam asetat glasial dan 2 tetes asam sulfat pekat. Dipanaskan secara perlahan-lahan di atas penangas air. Diamati bau yang keluar dari tabung reaksi dengan cara mengibaskan tangan pada permukaan tabung (jangan langsung dekat hidung). Bila belum teramati ditambahkan sedikit air (5 tetes).

Test Oksidasi

Dimasukkan 2 tetes asam sulfat pekat, dicampur dengan 1 mL KMnO4, diaduk hati-hati. Ditambahkan 2 mL etanol dan diapanaskan perlahan-lahan. Diamati perubahan warna yang terjadi dan dicatat. Dilakukan hal yang sama untuk methanol. Setelah tu oksidasi diganti dengan KMnO4.

Membedakan Alkohol Mono dan Poli

Dimasukkan masing-masing 2 mL senyawa etanol dan gliserol ke dalam tabung reaksi lalu diencerkan sedikit dengan air. Ditambahkan 15 tetes CuSO4 dan beberapa tetes larutan NaOH 10%. Diamati perubahan yang terjadi dan dicatat.

Kelarutan Alkohol dan Fenol

Dimasukkan 2 mL etanol, methanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan air ke dalamnya 2 mL. Ditutup tabung reaksi dan dikocok. Diamati peristiwa yang terjadi. Diperhatikan lapisan yang terpisah dan pada lapisan mana airnya.

Test Ferri Klorida

Dimasukkan 2 mL etanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes larutan ferri klorida ke dalam larutan tersebut. Diamati perubahan yang terjadi.

  1. Rangkaian Alat

 

Gambar 2.1 Rangkaian alat pemanasan dengan waterbath

 

III. Hasil dan Pembahasan

            Data Pengamatan

            Test Iodoform

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan 2 mL methanol dan etanol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Methanol dan etanol 2 mL
2. Setelah itu, ditambahkan 3 tetes larutan Iodium dalam KI dan larutan NaOH 10% tetes demi tetes sampai warna Iodium hilang. Ditambahkan 2 tetes iod, warna methanol dan etanol berwarna kuning dan setelah ditambahkan NaOH methanol berwarna putiih dan etanol warna kuning
3. Diamati perubahan yang terjadi, jika belum ada perubahan dipanaskan larutan pada suhu 60°C selama 2 menit.  
4. Diamati lagi perubahan yang terjadi dan dicatat.  

 

            Lucas Test

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Disiapkan 3 buah tabung reaksi dan ke dalamnya masukkan masing-masing 2 mL etanol, isopropil alkohol dan tertier butanol. Etanol, isopropil alkohol dan tertier butanol dimasukkan 2 mL dalam tabung reaksi
2. Ditambahkan ke dalam tabung reaksi 3 tetes pereaksi Lucas (FeCl2 + HCl).  
3. Dikocok campuran secara hati-hati, lalu didiamkan beberapa waktu sambil diamati perubahan yang terjadi. Etanol berwarna kuning pekat, isopropil alkohol warna kuning dan tertier butanol warna kuning pudar. Etanol tidak bereaksi, isopropil alkohol sedikit bereaksi dan tertier butanol bereaksi.

 

            Esterifikasi

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan 2 mL etanol ke dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 mL etanol
2. Ditambahkan 1 mL asam asetat glasial dan 2 tetes asam sulfat pekat Ditambah 2 mL asam asetat glasial dan 2 tetes asam sulfat pekat
3. Dipanaskan secara perlahan-lahan di atas penangas air Dipanaskan menggunakan waterbath
4. Diamati bau yang keluar dari tabung reaksi dengan cara mengibaskan tangan pada permukaan tabung (jangan langsung dekat hidung). Bau yang keluar adalah bau gelembus
5. . Bila belum teramati ditambahkan sedikit air (5 tetes).  

 

            Test Oksidasi

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan 2 tetes asam sulfat pekat, dicampur dengan 1 mL KMnO4, diaduk hati-hati. Dimasukkan 2 tetes asam sulfat pekat dan ditambahkan 1 mL KMnO4 warna ungu.
2. Ditambahkan 2 mL etanol dan diapanaskan perlahan-lahan.  
3. Diamati perubahan warna yang terjadi dan dicatat. Etanol dan methanol dimasukkan dalam tabung reaksi 2 mL warna berubah coklat.
4. Dilakukan hal yang sama untuk methanol.  
5. Setelah tu oksidasi diganti dengan KMnO4.  

 

            Membedakan Alkohol Mono dan Poli

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan masing-masing 2 mL senyawa etanol dan gliserol ke dalam tabung reaksi lalu diencerkan sedikit dengan air. V etanol : 2 mL dan V gliserol : 2 mL.
2. Ditambahkan 15 tetes CuSO4 dan beberapa tetes larutan NaOH 10%. CuSO4 : 15 tetes dan NaOH : 15 tetes
3. Diamati perubahan yang terjadi dan dicatat. Terbentuk 2 fasa pada tabung gliserol, tidak terbentuk fasa pada tabung etanol. Pada tabung gliserol warna larutan menjadi biru tua dan bercampur dan bereaksi. Pada tabung etanol warna larutanmenjadi biru muda pudar dan tidak bereaksi.

 

            Kelarutan Alkohol dan Fenol

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan 2 mL etanol, methanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Dimasukkan 2 mL etanol, methanol dan fenol pada tabung reaksi
2. Ditambahkan air ke dalamnya 2 mL Ditambah air 2 mL
3. Ditutup tabung reaksi dan dikocok.  
4. Diamati peristiwa yang terjadi. Etanol dan methanol larut dalam air, sedangkan fenol tidak larut
5. Diperhatikan lapisan yang terpisah dan pada lapisan mana airnya. Etanol dan methanol menghasilkan 1 fasa karena bersifat polar, sedangkan fenol menghasilkan 2 fasa karena bersifat non polar.

 

            Test Ferri Klorida

No Perlakuan Hasil Pengamatan
1. Dimasukkan 2 mL etanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Dimasukkan 2 mL etanol dan fenol
2. Ditambahkan 3 tetes larutan ferri klorida ke dalam larutan tersebut Etanol ditambahkan 5 tetes dan fenol ditambahkan 3 tetes larutan ferri klorida.
3. Diamati perubahan yang terjadi. Etanol tidak ada perubahan warna dam tidak ada endapan. Fenol terbentuk endapan, setelah ditambahkan 2 tetes ferri klorida lagi maka menghasilkan tidak ada endapan dan warna berubah coklat.

 

            Pembahasan

Reaksi-reaksi yang terjadi dalam alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air (Hart, 1990). Suatu alkohol primer dioksidasi menjadi aldehid atau asam karboksilat. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton saja. Sedangkan pada alkohol tersier menolak oksidasi dengan larutan basa dalam larutan asam, alkohol mengalami dehidrasi menghasilkan alkena yang kemudian dioksidasi (Mardzuki, 1990).

Uji lucas adalah larutan ZnCl2 dan HCl pekat uji ini berdasarkan reaksi alkohol dengan HCl alkil halide dengan katalisator ZnCl2. Pereaksi lucas dapat bereaksi dengan alkohol primer, sekunder dan tersier. Perbedaan gugus mempunyai pengaruh yang besar tehadap sifat senyawa misalnya saja kecepatan jenis reaksinya (Boxer, 1987).

   Test Iodoform

Dimasukkan 2 mL methanol dan etanol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Setelah iu, ditambahkan 3 tetes larutan Iodium dalam KI dan larutan NaOH 10% tetes demi tetes sampai warna Iodium hilang. Diamati perubahan yang terjadi, jika belum ada perubahan dipanaskan larutan pada suhu 60°C selama 2 menit. Diamati lagi perubahan yang terjadi dan dicatat.

 

warna methanol dan etanol berwarna kuning dan setelah ditambahkan NaOH methanol berwarna putiih dan etanol warna kuning.

Uji Iodoform adalah dimana sampel  uji ditambahkan dengan sejumlah kecil NaOH kemudian diamati endapan yang terbentuk. Reaksi iodoform adalah suatu reaksi yang spesifik untuk gugus metilketon.Gugus metil dari suatu metil keton diiodonasi dalam suasana basa sampai terbentuk iodoform (CHI3) padat berwarna kuning.

Beberapa sifat fisik yang dimiliki oleh iodin yaitu sebagai berikut :

Titik leleh (0C)                        : 113,5

Titik didih (0C)                       : 184,3

Jari-jari X– (Å)                                  : 2,12

Jari-jari kovalen (Å)                       : 1,33

Rapatan (g/cm3)                             : 4,93

Energi pengionan pertama (kJ/mol)   : 1008

Keelektronegatifan (skala pauling)     : 2,5

Afinitas elektron (kJ/mol)            : -2,95

Iod adalah padatan hitam dengan sedikit kilap logam. Pada tekanan atmosfer ia menyublim tanpa meleleh. Ia segera melarut dalam suatu pelarut nonpolar seperti CS2 dan CCl4. Larutan semacam ini berwarna merah lembayung, seperti dalam uapnya. Dalam pelarut-pelarut polar, hidrokarbon tidak jenuh, dan SOcair, terbentuk larutan coklat atau coklat kemerahjambuan. Warna-warna tersebut menunjukkan pembentukan kompleks lemah I2 . . . S, yang dikenal sebagai kompleks penyerahan muatan. Iod memiliki nomor atom 53 dalam bentuk solid massa 4,933 g/cm3, titik lebur 113,7° dan titik didih 184,3° (Daintih, 1997).

Fungsi NaOH : sebagai bahan penguji dalam tes alkali. Sifat Fisika dan  Kimia Natrium Hidroksida : Merupakan padatan, tidak berbau, berat molekul 40 g/mol, berwarna putih dan titik didih 1388 °C. Bahan kimia jenis alkali yang kuat yang digunakan dalam cairan pemasah alkali, biasanya disebut kaustik noda atau lindi (Hadyana, 2002).

Etanol bereaksi dengan iodoform karena etanol adalah alkohol primer yang mengikat 1 C lainnya, sehingga mempercepat reaksi dengan iodoform dan ditambah dengan NaOH sebagai katalisator etanol maka etanol lebih cepat bereaksi dan larut dalam iodoform. Sedangkan methanol tidak bereaksi dengan iodoform karena methanol lebih banyak mengikat atom C dan bersifat non polar dengan iodoform.

Lucas Test

Disiapkan 3 buah tabung reaksi dan ke dalamnya masukkan masing-masing 2 mL etanol, isopropil alkohol dan tertier butanol. Ditambahkan ke dalam tabung reaksi 3 tetes pereaksi Lucas (FeCl2 + HCl).  Dikocok campuran secara hati-hati, lalu didiamkan beberapa waktu sambil diamati perubahan yang terjadi.

 

Etanol berwarna kuning pekat, isopropil alkohol warna kuning dan tertier butanol warna kuning pudar. Etanol tidak bereaksi, isopropil alkohol sedikit bereaksi dan tertier butanol bereaksi.

Uji lucas adalah larutan ZnCl2 dan HCl pekat uji ini berdasarkan reaksi alkohol dengan HCl alkil halida dengan katalisator ZnCl2. Pereaksi lucas dapat bereaksi dengan alkohol primer, sekunder dan tersier. Perbedaan gugus mempunyai pengaruh yang besar tehadap sifat senyawa misalnya saja kecepatan jenis reaksinya (Boxer, 1987).

Test ini bertujuan untuk membedakan alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Pereaksi lucas ini harus dibuat sebelum melakukan percobaan dikarenakan pereaksi ini bersifat mudah menguap sehingga jika telah dibuat sebelum melakukan percobaan dikhawatirkan pereaksi ini memberikan hasil yang tidak maksimal.

Etanol, merupakan salah satu kelompok alkohol yaitu cairan tidak berwarna yang mudah terbakar (Collins, 1995). Asam asetat, merupakan asam lemah artimya hanya teroksidasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-, senyawa ini bersifat korosif (Pratiwi, 2011). Asam sulfat, merupakan cairan yang tidak berwarna. Asam sulfat dibuat dengan menggunakan prinsip kamar timbal, tetapi sekarang telah digantikan oleh proses kontak (Martin, 1994). Pada percobaan ini etanol adalah alkohol primer, isopropil alkohol adalah alkohol sekunder dan tertier butanol adalah alkohol tersier.

Esterifikasi

Dimasukkan 2 mL etanol ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1 mL asam asetat glasial dan 2 tetes asam sulfat pekat. Dipanaskan secara perlahan-lahan di atas penangas air, fungsi pemanasan ini betujuan untuk menyempurnakan reaksi yakni dengan mendidihkan campuran. Diamati bau yang keluar dari tabung reaksi dengan cara mengibaskan tangan pada permukaan tabung (jangan langsung dekat hidung). Bila belum teramati ditambahkan sedikit air (5 tetes).

Hasil percobaan, bau yang keluar adalah bau gelembus. Esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi. Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H­+. Asam belerang sering digunakan sebagai sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini. Pada skala industri, etil asetat di produksi dari reaksi esterifikasi antara asam asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dengan bantuan katalis berupa asam sulfat (H2SO4). Proses esterifikasi adalah suatu reaksi reversible antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Produk esterifikasi disebut ester yang mempunyai sifat yang khas yaitu baunya yang harum. Sehingga pada umumnya digunakan sebagai pengharum (essence) sintetis. Reaksi esterifikasi merupakan reaksi reversible yang sangat lambat. Tetapi bila menggunakan katalis asam sulfat atau asam klorida, kesetimbangan reaksi akan tercapai dalam beberapa jam. Esterifikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah; struktur molekul dari alkohol, suhu proses dan konsentrasi katalis maupun reaktan.

Kegunaan Asam Sulfat di Lab umumnya sebagai Reagent atau pereaksi yang umumnya digunakan di dalam suatu reaksi asam – basa atau reaksi lainnya. Asam sulfat banyak digunakan dalam industri. til asetat adalah senyawa organik dengan rumus empiris C2H5OC(O)CH3. Senyawa ini merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna, memiliki aroma khas. Senyawa ini di produksi dalam skala besar sebagai pelarut. Etil asetat adalah pelarut polar menengah yang volatil (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak higroskopis.

 

            Test Oksidasi

Dimasukkan 2 tetes asam sulfat pekat, dicampur dengan 1 mL KMnO4, diaduk hati-hati. Ditambahkan 2 mL etanol dan dipanaskan perlahan-lahan. Diamati perubahan warna yang terjadi dan dicatat. Dilakukan hal yang sama untuk methanol. Setelah tu oksidasi diganti dengan KMnO4.

Dimasukkan 2 tetes asam sulfat pekat dan ditambahkan 1 mL KMnO4 menjadi warna ungu. Etanol dan methanol dimasukkan dalam tabung reaksi 2 mL warna berubah coklat.

Gambar 3.8 Pereaksi Test Oksidasi (KMnO4)

Gambar 3.9 Hasil Percobaan Test Oksidasi

Pada tes Oksidasi Alkohol digunakan untuk membedakan alkohol primer dan sekunder dari alkohol tersier.

Membedakan Alkohol Mono dan Poli

Dimasukkan masing-masing 2 mL senyawa etanol dan gliserol ke dalam tabung reaksi lalu diencerkan sedikit dengan air. Ditambahkan 15 tetes CuSO4 dan beberapa tetes larutan NaOH 10%. Diamati perubahan yang terjadi dan dicatat.

Terbentuk 2 fasa pada tabung gliserol, tidak terbentuk fasa pada tabung etanol. Pada tabung gliserol warna larutan menjadi biru tua dan bercampur dan bereaksi. Pada tabung etanol warna larutanmenjadi biru muda pudar dan tidak bereaksi.

Gambar 3.10 Hasil Uji Alkohol Mono dan Poli

Mono alkohol adalah alkohol yang memiliki satu gugus -OH. Rumus umum monoalkohol sama dengan rumus alkana, tetapi satu atom H diganti oleh gugus hidroksi (-OH). Alkohol memiliki gugus -OH, rumus struktur dapat juga ditulis R-OH (R menyatakan gugus alkil). Alkohol merupakan turunanalkana sehingga disebut juga alkanol. Oleh karena, itu penamaannya disesuaikan  dengan alkananya, tetapi huruf akhir a pada alkana diganti dengan ol.

Berdasarkan jumlah gugus OH, alkohol dapat dikelompokkan menjadi

  1. a) Alkohol mono ialah alkohol yang mempunyai satu gugus hidroksil Contoh : CH3-CH2-OH
  2. b) Alkohol poli ialah alkohol yang mempunyai gugus hidroksil lebih dari satu.Contoh : CH2-CH2-OH-OH

Polialkohol

Gliserol

*sebagai bahan cairan pembersih telinga dan pelarut obat obatan, ex sirup obat batuk.

*sebagai bahan kosmetik (pelembab kulit)

*sebagai bahan baku serat plastik

*sebagai bahan untuk membuat peledak,yaitu nitrogliserin

Glikol

*digunakan sebagai pelarut dan bahan baku untuk membuat serat sintesis seperti dacron.

Untuk mengetahui yang mana alkohol mono dan poli agar bisa dimanfaatkan

Ethanol (C2H5OH)

Massa Jenis   : 0,79 kg/L

Gliserol

Massa Jenis   : 1,26 g/cm³

Natrium hidroksida (NaOH)

Massa Jenis    : 2,13 g/cm³

Tembaga(II) sulfat (CuSO4)

massa jenis     : 3,6 g/cm³

 

Kelarutan Alkohol dan Fenol

Dimasukkan 2 mL etanol, methanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan air ke dalamnya 2 mL. Ditutup tabung reaksi dan dikocok. Diamati peristiwa yang terjadi. Diperhatikan lapisan yang terpisah dan pada lapisan mana airnya.

Etanol dan methanol larut dalam air, sedangkan fenol tidak larut. Etanol dan methanol menghasilkan 1 fasa karena bersifat polar, sedangkan fenol menghasilkan 2 fasa karena bersifat non polar.

Kelarutan adalah kemampuan suatu zat telarut melarut pada suatu pelarut. Kelarutan didefinisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekular homogen. Kelarutan suatu senyawa bargantung pada sifat fisika, dan kimia zat terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan dan untuk jumlah yang kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.

Alkohol dan fenol merupakan dua senyawa organik yang mempunyai struktur yang serupa, tetapi gugus fungsi pada fenol melekat langsung pada cincin aromatik.Hidrokarbon berlaku sebagai dasar pengelompokan senyawa organik. Suatu senyawa non hidrokarbon yang mana mengandung rantai karbon atau cincin atom-atom karbon yang sama.Yang akan dibahas terbatas pada derivate sederhana yang diperoleh dari menggantikan satu, dua, atau tiga atom hydrogen dalam molekul hidrokarbon, dengan atom oksigen atau gugus hidroksil. Adanya atom-atom atau gugus-gugus atom menentukan sebagian besar sifat fisika dan kimia molekul itu. Atom ataupun gugus atom yang paling menentukan sifat suatu zat dirujuk sebagai gugus fungsional. Alkohol dan fenol adalah senyawa yang sama-sama mengandung gugus OH.Walaupun sama-sama memiliki gugus -OH, akan tetapi sifat kedanya tidaklah sama.

Etanol, merupakan salah satu kelompok alkohol yaitu cairan tidak berwarna yang mudah terbakar (Collins, 1995). Fenol berbentuk solid, berbau aromatic dan tajam, tidak berwarna, memiliki titik didih 182° dan titik leleh 42°C (Bettelheim, 2005). Fenol merupakan senyawa alkohol dengan rumus kimia C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil. Fenol dapat mengalami reaksi-reaksi melalui gugus (-OH) antara lain nitrasi, sulfonasi, halogenasi, nitrosasi, asilasi dan lain-lain [1]. Reaksi asilasi fenol merupakan studi yang penting dan sering digunakan untuk transformasi senyawa organik karena reaksi memberikan rute yang efisien untuk

394 melindungi gugus hidroksi, amina, fenolik, dan tiol, tetapi juga menghasilkan intermediet organik yang penting dalam proses sintesis multi-step [2] (AdiansyahAlim, Kamulyan dan Suratmo, 2013). Metanol merupakan cairan jernih, tidak berwarna, dan merupakan cairan yang mudah terbakar (Ali, 2005).

            Test Ferri Klorida

Dimasukkan 2 mL etanol dan fenol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes larutan ferri klorida ke dalam larutan tersebut. Diamati perubahan yang terjadi.

Etanol tidak ada perubahan warna dan tidak ada endapan. Fenol terbentuk endapan, setelah ditambahkan 2 tetes ferri klorida lagi maka menghasilkan tidak ada endapan dan warna berubah coklat

 

Prinsip dari analisa ferri klorida yaitu membedakan antara alkohol dan fenol.Untuk membedakannya digunakan reagen FeCl3 sebagai pereaksi. Pembentukan warna yang terjadi apabila suatu senyawa tersebut merupakan fenol. Pada alkohol tidak akan terjadi pembentukan warna karena alkohol tidak dapat bereaksi dengan reagen FeCl3.

 

  1. Kesimpulan

            a.Jenis alkohol dapat dibagi menjadi tiga yaitu alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier dan cara uji kualitatifnya ada 7 cara kerja. Pertama test iodoform, kedua lucas test, ketiga esterifikasi, keempat test oksidasi, kelima membedakan alkohol mono dan poli, keenam kelarutan alkohol dan fenol dan ketujuh test ferri klorida.

Pada percobaan ini mendapatkan hasil pada test iodoform penambahan 3 tetes iod dan 3 tetes NaOH, warna etanol kuning dan warna methanol berwarna putih. Pada lucas test menghasilkan etanol warna kuning pekat (tidak bereaksi), warna kuning pada isopropil alkohol (sedikit bereaksi) dan warna kuning pudar pada tertier butanol (bereaksi). Pada esterifikasi mendapatkan hasil Bau yang keluar adalah bau gelembus. Pada test oksidasi mendapatkan hasil etanol berwarna ungu dan methanol berwarna coklat. Pada uji untuk membedakan alkohol mono dan poli mendapatkan hasil terbentuk 2 fasa pada gliserol, tidak terbentuk fasa pada tabung etanol. Pada tabung gliserol warna larutan menjadi biru tua dan bercampur dan bereaksi sedangkan pada tabung etanol warna larutan biru muda pudar dan tidak bereaksi. Pada uji kelarutan alkohol dan fenol mendapatkan hasil etanol dan methanol larut dalam air menghasilkan 1 fasa sedangkan fenol tidak larut dan menghasilkan 2 fasa. Pada test ferri klorida mendapatkan hasil etanol tidak ada perubahan warna dan tidak ada endapan, dan fenol 3 tetes terbentuk endapan, 5 tetes endapan tidak ada serta warna berubah menjadi coklat.

 

Daftar  Pustaka

AdiansyahAlim, H.A., Kamulyan, B., dan                   Suratmo, 2013, Studi                          Kinetika             Reaksi                         Asilasi Fenol Dengan Asam               Sitrat Anhidrida, Kimia                        Student Journal, Vol. 2, No.                1, pp. 393-397, Universitas                 Brawijaya, Malang

Ali, H.K., 2005, Dasar-Dasar Ilmu Tanah,                  Refragrafindo Persada,                      Jakarta

Bettelheim, 2005, Pengantar Kimia                            Organik dan Hayati, ITB,                    Bandung

Boxer, R, 1987, Organic Chemistry, Mc                    Graw Hill Inc, USA

Brady, 1999, Kimia Organik Dasar 1, UGM              Press, Yogyakarta

Collins, E., 1995, Kamus Saku Kimia,                        Penerjemah Zaini,                               Erlangga, Jakarta

Daintith, 11997, Kamus Lengkap Kimia,                    Erlangga, Jakarta

Fessenden, R.J dan Fessenden, J.S,                        1997, Dasar-Dasar Kimia                   Organik, Bina                                     Aksara, Jakarta

Hadyana, A.P., 2002, Kamus Kimia, Balai                 Pustaka, Jakarta

Keenan, C.W, 1986, Ilmu Kimia Untuk                       Universitas, Jilid 1,                             Erlangga, Jakarta

Mardzuki, 1990, Kimia Organik Jilid 1,                       Erlangga, Jakarta

Martin, A., 1994, Kamus Sains,                                  Penerjemah Ahmad,                           Lintang Pustaka Pelajar,                        Yoggyakarta

Ndra, M.A.J., 1984, Belajar Mudah Kimia                  Organik Teori dan Soal-                     soal, Pustaka, Bandung.

Pratiwi, N., 2011, Optimalisasi Reaksi                       Esterifikasi Asam Asetat                    dengan 1 Heksena, UIN                  Syarif Hidayatullah, Jakarta

Suminar, A., 1990, Kimia Dasar, Erlangga,               Jakarta

Wilbraham dan Mata, 1998, Pengantar                      Kimia Organik dan Hayati.                  Institute Technology of                     Bandung Press, Bandung.

Diary of the Week

Assalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh

How are guys today? I hope your in good condition

In this day, I can tell you what happen in this week

First, start from Wednesday. I work the overtime journals and reports, and I go pray. After prayer, I eat and take a shower. After that, I went to campus for College mathematics. After mathematics followed by complete report after that my practical workand go home. On Thursday, I woke up before dawn and carried out fasting sunnahThursday, after that I went to the mosque. After that I went to the campus to join the activities of the Executive Board upgrade FKMI  Fikri in the Kapuas, afterwards I noon forty winks and continued with the show iftaar and studies organised by GRMS (Generation Rabbani Sekadau Students) in the mosque that night as well as Pontianak IKIP PGRI joined yasinan and sholawatan. On the day I do the Friday at acc basic chemistry II lab course calculations in the old Sciences, after that I pray at the Mosque of the Mujahidin and at one meeting I have dirgahayu Himki new buildings in the SCIENCE FACULTY of the second floor. Four o’clock in the afternoon until the eveningsix and a half I have sample material for practical work tomorrow night and accompanied by work on the report and the journal. On Saturday, I had to finish the journalfor teaching hours, one day, and the practical progress fast enough because when teaching two groups merged into one group. On Sunday, I attended a training organization in the Hall of the village on the way the media organized by Himki, after completion of the event the evening should overtime for working on journal and report again hehehe. Next Monday, should overtime and much goes wrong, in the morning I have to borrow funds for Business Desk selling at SBMPTN, after that I continue with the work on the report. On  I was delivering a report on the lab, after that I pray at the Musholla Fikri. After that I to the new building to see anything done business and Fund staff talking about dirgahayu, at the same time the rain ever came to the maghrib, after that I went home and to bed. The next day, I came to the campus enough to help spread the pamphlet from FKMI Fikri to our SBMPTN participants, we from Fikri eating in a dining are on the shores of the Kapuas River  in the noon and its accompanied again by journals and reports and overtime again and again huuuuh … tired …. all that chemistry child so yaa, should be strong mentally, physically, the soul, the spiritual and physical wkwkwk. On Wednesday morning I was in college and continued to work on the report and the journal as well as noon to afternoon lab course. On the practical work, my group could arguably be a goodly long group of his experiments and teaching the basic chemistry of the terakdhir on this semester heheh relieved cuyy, seriously ….

Well all this from me. If you want to pursue your dream of success don’t so just dreamers, but be a contact mimipi it. In the world of work that GPA is important, but more important soft skill (public speaking, organizations and networks) are far more important than the IPK. However, it seems to me that students should be able to open the job because it’s got a science student and must be developed for the Betterment of the nation and the country. Four organizations, GPA steady, maybe that’s how itshould be realized for now, so that the future of these young men become the golden generation of Indonesia at 2045. Aamiin

Wabillahi taufik hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh 

​My Future Bussines : Entrepreneur


    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    First, we must smile face with many people.
    How are you today guys? I hope they all is a good for today and future.

    In Indonesia most people think went to College to get a job, when it should the student must have the creativity, innovation and can open up jobs for other people. Now is not the benchmark for college majors could easily get a job, hence students must move to open an employment, an example is entrepreneur…

    I will discuss a little about why the importance we have to trade.

    The hadeeth of trade:

    The Messenger of Allah Shallallahu’alaihi peace and often praised and motivates traders. Among them he said:

    التاجر الصدوق الأمين مع النبيين والصديقين والشهداء

    “An honest and trustworthy Merchant will be resurrected along with the prophets, the people of Abu-Bakr and the martyrs” (narrated by Tirmidhi No. 1209, he said: “the Hadith hasan, I don’t know other than resonate this”)

    عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: «عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ»

    Rafi ‘ bin Khadij from he said: the Prophet asked, ‘ O Messenger of Allaah, what is the best job? ‘. The Prophet replied: “the work that person does with his hands and also any trade that m (good)” (narrated by Al-Bayhaqi in Al-Kubra 5/263, Saheeh Al albaani classed u.s. in Ash Shahihah 607) (source: http://pengusahamuslim.com/3719-keutamaan-berdagang-1896.html)

    From a few years ago I already intend to open a business but still no shadow what field. From the sale of basic food, opening a cafe, souvenir shirts, and others. It’s promising to do business as more revenues than on civil servants. Now, just like the old days still exist the intention but not yet consummated, may in the future be able to become a successful entrepreneur. Man jadda wa jada Aamiin.

    So little information from me, wabillahi taufik hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh wal

    How To Make Fried Noodles Version Of Students

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    How have you been? For good or ill? If our prayer is sick, so that all kinds of diseases that exist within him was made by Allah so that he could serve God without any constraints. Aammin

    Meet again with me on the blog are not as many as other blogs who’ve had famous:D, because we are made not to seek fame but a human being created to worship and be useful to other people … 🙂

    Here I will share the recipe though simple dishes that are important can make the stomach filled 😀 hehehe

    The tool used is glass, gas stove, dishes, knives, spoons and pans.

    Materials used:

    Water

    the onion

    Chili pepper

    Noodles

    Work Procedure

    1. First we must buy the noodles in the shops nearest to your home.

    2. Once purchased, the noodles are ready to be boiled in a pan filled by water to taste and enough heat


     3. Put the noodles in the water already boiling


     4. The Drained noodles to a plate.

    20170430_215111

    5. Cut the onion and chilli with a knife.


    6. Put the cooking oil in a wok and heated.

    7. Put onions and chilli into a pan that has been heat.

    8. Put the noodles into the drain pan that is already.

    9. Put Noodles in the dish and give it spice on the noodle.

    10. Noodle teapot.


    Thank you for visiting on my blog, do not be bored come on my blog.

    Life is like a pantun

    Raft upstream

    Swim to the edge

    AIL in the past

    Have fun then

    Hopefully we can become a young man or an old man who can to heaven and meet up with our Creator Allah. Aamiin 🙂

    Wabillahi taufik hidayah wassalamu alaikum wal warahmatullahi wabarakatuh